Monthly Archives: November 2016

Esai Foto: Dominasi Kekuasaan Persib Bandung atas Persikab Kabupaten Bandung

 10547688_720918631287826_776922274308747194_n Syal Persib dan teman-teman semasa SMA di Ciwidey, Kabupaten Bandung.

 

Sepak bola merupakan sebuah cabang olahraga yang paling digemari oleh mayoritas masyarakat Indonesia dan juga Indonesia dikenal memiliki jumlah pendukung fanatik yang besar, dan salah satunya adalah suporter Persib Bandung yang dijuluki Bobotoh. Kelompok suporter Persib Bandung ini, tidak hanya berasal dari penduduk Kota Bandung saja, tapi juga berasal dari berbagai daerah yang diantaranya adalah dari Kabupaten Bandung, seperti foto teman saya diatas. Namun ironisnya, salah satu klub sepak bola yang ada di Kabupaten Bandungn sendiri, yakni Persikab yang merupakan akronim dari Persatuan sepakbola Kabupaten Bandung memiliki jumlah suporter yang sangat sedikit bahkan menjadi salah satu alasan mengapa klub sepak bola ini tergolong pasif.

Dalam analisis saya, hal tersebut dikarenakan Persib Bandung sudah menjadi klub sepak bola yang telah merepresentasikan warga Bandung, bahkan menjadi simbol perjuangan rakyat pribumi Indonesia karena telah berdiri sejak zaman kolonialisme Belanda di Indonesia atau tepatnya pada 1933 sedangkan Persikab baru terbentuk pada tahun 1963. Hal tersebut melahirkan sebuah kelompok sosial yang memiliki identitas kuat yang terbentuk dari kesamaan pengalaman dan penderitaan dalam kurun waktu dan tempat tertentu yang sama pula. Seperti yang dinyatakan oleh Jane Pilcher:

According to Mannheim, people are significantly influenced by the socio-historical environment (in particular, notable events that involve them actively) of their youth; giving rise, on the basis of shared experience, to social cohorts that in their turn influence events that shape future generations.” (Pilcher, 1933)

Meskipun seharusnya masyarakat penggemar sepak bola yang berdomisili di kabupaten Bandung memiliki keinginan untuk mendukung klub dari wilayahnya sendiri karena memiliki modal lingkungan sosial-historis yang sama, namun kesamaan pengalaman tersebut kurang representatif untuk membentuk suatu kelompok sosial yang masif. Hal tersebut ditambah lagi dengan pengaruh dari identitas Persib Bandung yang tidak hanya dapat merepresentasikan klub sepak bola Kota Bandung saja, tetapi juga dapat merepresentasikan Jawa Barat yang mana diantaranya adalah Kabupaten Bandung. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kelompok sosial yang masif tidak serta-merta terbentuk hanya dari kesamaan dimensi geografis dan waktu saja, tetapi juga diperkuat oleh ikatan sosiohistoris yang senasib.

Hal diatas juga menyebabkan Persib Bandung dan pendukungnya memiliki kuasa dominasi terhadap pendukung-pendukung klub lokal asal Bandung yang lain seperti Persikab. Sepengalaman saya, ketika seorang warga kota Bandung ataupun Jawa Barat tidak mendukung Persikab dan memilih mendukung Persib Bandung, maka akan menjadi hal yang tabu dan menimbulkan pertanyaan diantara teman sekitarnya karena hal tersebut melawan wacana kuasa yang berlaku di masyarakat. Namun sebaliknya, jika ada warga yang berdomisili di Kabupaten Bandung yang mendukung Persib, maka itu merupakan sebuah hal yang lumrah dan dapat dibenarkan oleh masyarakat pada umumnya sampai-sampai bermunculan kelompok-kelompok suporter Persib yang berbasis di daerah Kabupaten Bandung seperti Bobotoh Soreang, Bobotoh Ciparay dan sebagainya. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai hegemoni budaya. Seperti yang diutarakan oleh Ballard (2002 : 14) hegemoni merupakan hasil dari proses yang mana para anggota dari kelompok dominan memiliki keyakinan tertentu untuk membenarkan posisi mereka. Dalam konteks kasus ini, para pendukung Persib sebagai pemilik kuasa dominan membenarkan para pendukung Persib yang berasal dari luar kota Bandung.

Dalam menjaga kuasa dominasinya, kelas dominan tidak serta merta harus melakukan pemaksaan dalam menjamin kuasanya tersebut tetap ada. Kelas dominan juga menggunakan cara-cara terselubung tanpa disadari oleh masyarakat. Dalam konteks kasus ini, saya melihat Persib dan para pendukungnya menanamkan identitas kesundaan yang sangat besar sehingga dapat menjaring lebih banyak lagi orang dengan latar belakang pengalaman yang sama. Hal ini juga terbukti ketika saya menulis dalam laman pencarian Google, “Urang Sunda wajib” dan rekomendasi yang pertama muncul adalah “ngadukung Persib” yaitu bahasa Sunda untuk mendukung Persib. Hal tersebut membuktikan bahwa banyak orang yang melakukan pencarian dengan kata kunci tersebut dengan mesin pencari Google. 

 

Daftar Referensi:

Jane Pilcher, (1933). “Mannheim’s Sociology of Generations: An Undervalued Legacy”

Latif, Yudi. Inteligensia Muslim Dan Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad Ke-20. Bandung: Mizan, 2005. Print.

Mannheim, Karl (1952). “The Problem of Generations”. In Kecskemeti, Paul. Essays on the Sociology of Knowledge: Collected Works, Volume 5. New York: Routledge